Perkembangan kecerdasan buatan (artificial Intelligence/AI) terus menimbulkan kejadian tersebut. Baru-baru ini, CEO Anthropic, salah satu perusahaan teknologi AI ternama di Amerika Serikat, memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi ancaman nyata berupa potensi kemiskinan massal akibat adopsi AI yang semakin cepat.
Dalam sebuah forum internasional, ia menegaskan bahwa meskipun AI membawa banyak manfaat dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas, dampaknya terhadap pasar tenaga kerja tidak dapat diabaikan. “Kita mungkin hanya berjarak beberapa tahun dari kondisi di mana jutaan pekerjaan bisa digantikan oleh sistem otomatis,” ujarnya.
Sektor yang paling rentan terdampak adalah industri jasa, perbankan, transportasi, hingga media. Banyak pekerjaan administratif dan rutin yang digantikan oleh teknologi AI yang mampu bekerja lebih cepat dan akurat. Kondisi ini menimbulkan gelombang gelombang baru, terutama bagi pekerja dengan keterampilan menengah ke bawah.
Meski begitu, CEO Anthropic juga menekankan bahwa AI tidak hanya menciptakan tantangan, tetapi juga peluang. Ia mendorong pemerintah dan sektor swasta untuk lebih serius menyiapkan program pelatihan ulang (reskilling) serta peningkatan keterampilan digital agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan perubahan. “AI akan tetap menjadi bagian dari masa depan, pertanyaannya adalah bagaimana kita memastikan manusia tidak tertinggal,” tambahnya.
Peringatan ini menambah daftar panjang kekhawatiran global terhadap AI. Beberapa negara sudah mulai merancang regulasi untuk mengantisipasi dampak negatif, termasuk perlindungan sosial bagi pekerja yang terdampak secara otomatis.
Dengan peringatan keras dari CEO Anthropic ini, diskusi tentang keseimbangan antara inovasi teknologi dan keberlangsungan lapangan kerja pasti akan semakin mengemuka di seluruh dunia.

0 Komentar