Tim SAR gabungan terus bekerja keras di lokasi runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Hingga Minggu (5/10/2025) sore, sebanyak 39 santri dinyatakan meninggal dunia, sementara 23 orang lainnya masih dalam pencarian. Tragedi ini menjadi salah satu musibah terburuk yang menimpa lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Kepala Basarnas Surabaya, Budi Santoso, pencarian dilakukan selama 24 jam penuh dengan melibatkan lebih dari 300 personel gabungan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan setempat. “Kami fokus pada tiga titik utama di bagian asrama putra yang paling parah terdampak perumahan,” ujar Budi. Ia juga menyebutkan proses evakuasi terkendala cuaca dan struktur bangunan yang masih labil.
Para korban yang berhasil ditemukan segera dibawa ke RSUD Sidoarjo untuk proses identifikasi. Tim DVI Polri telah mendirikan posko identifikasi dan menerima data dari keluarga santri yang hilang. Hingga kini, sudah 27 jenazah berhasil dikenali melalui sidik jari dan barang pribadi.
Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan logistik dan santunan duka bagi keluarga korban. Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan duka mendalam dan meminta seluruh pihak untuk mengutamakan keselamatan petugas di lapangan.
Pemerintah pusat juga memerintahkan tim teknis dari Kementerian PUPR untuk memeriksa struktur bangunan ponpes yang ambruk. Dugaan sementara, kejadian tersebut dipicu oleh struktur bangunan yang tidak menahan curah hujan tinggi beberapa hari terakhir.
Hingga malam hari, suasana duka masih melestarikan kompleks ponpes. Keluarga santri yang kabarnya tetap berharap mukjizat dan menunggu keajaiban di tengah upaya pencarian yang belum berhenti.

0 Komentar