Barapan Kebo adalah tradisi khas masyarakat Sumbawa yang diadakan setiap musim tanam padi, biasanya antara bulan September–November . Arena perlombaan berupa sawah berlumpur dengan kolam air setinggi lutut, tempat kerbau-kerbau tangguh dipacu kencang demi mencapai finish .
Persiapan tradisi ini dimulai beberapa hari sebelumnya, dengan pengukuran tinggi dan usia kerbau—dipisahkan ke dalam kelas sesuai sekitar tiga sampai empat hari sebelum acara . Hal ini bertujuan agar setiap kerbau berlaga dalam kategori yang sesuai.
Uniknya, Barapan Kebo melibatkan sandro, yaitu dukun atau ahli supranatural lokal, yang menggunakan tongkat sakral bernama Sakak. Kerbau yang dapat menyentuh atau menjatuhkan Sakak saat mencapai garis finish dinobatkan sebagai juara . Joki berdiri di atas papan kayu (kareng) sambil memacu kerbau menggunakan mangkar (pecut), menjaga keseimbangan di lintasan licin.
Selain sebagai tontonan, Barapan Kebo sarat makna ritual dan sosial. Acara ini merupakan bentuk syukur petani terhadap alam, sekaligus sarana silaturahmi dan hiburan massal . Bupati serta pemerintah daerah bahkan mendorong Barapan Kebo untuk menggeliatkan perekonomian dan pariwisata lokal dengan hadiah motor, peralatan elektronik, hingga hewan ternak .
Secara turun-temurun tradisi ini tidak hanya membantu menggemburkan tanah untuk menanam padi, tetapi juga memperkuat identitas budaya Tau Samawa, memadukan keindahan lokal, hikmah agraris, dan mistisisme.


0 Komentar