Insiden tragedi kembali terjadi di Gunung Muria, di mana seorang pendaki terbunuh setelah terpeleset di jalur ekstrem yang dikenal sebagai Jalur Naga, jurang curam tanpa banyak pengawasan. Korban—seorang perempuan—jatuh ke jurang sedalam 100–200 meter saat turun dari puncak Natas Angin melalui jalur tersebut, lalu ditemukan meninggal setelah evakuasi sulit dilakukan di tengah medan yang curam, gelap, dan minim jangkar tali pengaman .
Meskipun jalur ini memang populer dan sangat menantang, namun fasilitas keselamatan hampir tidak terlihat. Tidak ada pos penjaga resmi, pencatatan pendaki, maupun papan peringatan; pendaki bisa masuk tanpa registrasi . Kurangnya jangkar serta minimnya pencahayaan di titik ekstrim membuat evakuasi menjadi sangat rumit dan berbahaya bagi korban maupun tim SAR.
Pemerintah Kabupaten Kudus telah mulai merespons dengan inspeksi langsung dan pelarangan pendakian tanpa registrasi, memperkuat sistem keamanan, dan mempersiapkan pelatihan pemandu lokal serta fasilitas seperti pos pengawasan dan GPS pendaki . Namun, upaya itu dinilai masih awal, mengingat jalur Naga tetap menyisakan risiko tinggi. Banyak pendaki pentingnya registrasi, jalur resmi, serta persiapan fisik dan perlengkapan memadai sebelum mendaki.
Kesimpulannya, korban yang kembali jatuh di jalur ini menjadi alarm bahwa Gunung Muria membutuhkan sistem keamanan struktural, dari registrasi wajib, penjagaan pos hingga peralatan pengamanan yang memadai.


0 Komentar