Memasuki semester kedua 2025, harga emas global diperkirakan tetap tinggi dalam kisaran US$3.100–3.500 per ons, dengan potensi breakout menuju US$4.000 jika tekanan geopolitik dan fiskal kembali meningkat . IMF seperti HSBC merevisi naik prediksi rata‑rata 2025 sebesar US$3.215, dan untuk 2026 di US$3.125 per ons .
Faktor utama adalah dorongan pembelian emas oleh bank sentral—lebih dari 95% lembaga yang meningkatkan cadangan, mendorong kekhawatiran terkait stabilitas dolar AS dan utang negara. Gejolak geopolitik, seperti ancaman tarif dan konflik global, juga menambah daya tarik aset safe-haven ini. Kendati demikian, analis HSBC memperkirakan momentum reli mulai melemah dengan koreksi jangka pendek kemungkinan terjadi .
Beberapa lembaga keuangan besar seperti Goldman Sachs dan JP Morgan memperkirakan harga akhir 2025 berada pada kisaran US$3.300–3.700, bahkan Goldman menyebut kemungkinan mencapai US$4.000 pada tahun 2026 .
Secara teknis, dukungan kuat terlihat di level US$3.100–3.300. Perkiraan panjang memperkirakan harga tetap sideways hingga Oktober, sebelum naik 5–12% ke US$3.700–3.900 pada Desember–Januari . Namun, analisis Citi menyoroti kemungkinan tekanan turun jika perekonomian AS membaik dan Fed mulai menaikkan suku bunga akhir tahun 2025.
Singkatnya, emas diprediksi tetap menjadi aset lindung nilai solid pada semester II 2025, meskipun kemungkinan koreksi jangka pendek tetap ada. Investor disarankan untuk memadukan indikator ekonomi AS, perkembangan geopolitik, dan kebijakan bank sentral guna memanfaatkan momen masuk terbaik.


0 Komentar