Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Yarman, memberikan tanggapan resmi terkait ancaman keluarga Juliana Marins—pendaki asal Brasil yang meninggal di Gunung Rinjani—untuk menempuh jalur hukum, baik nasional maupun internasional. Yarman menegaskan, tim SAR gabungan telah berupaya maksimal dalam proses evakuasi korban. Menurutnya, seluruh prosedur disesuaikan dengan standar operasional (SOP) yang berlaku di Indonesia.
Yarman mengakui bahwa hambatan utama dalam evakuasi adalah kondisi alam yang ekstrem—medan curam hingga 600 meter dan cuaca yang berubah-ubah secara cepat. Meski begitu, tim SAR langsung diterjunkan sejak informasi diterima pada pukul 06.30 WITA, dan mulai turun ke lokasi sekitar pukul 08.00 WITA . Tim berhasil mengevakuasi jenazah Juliana lima hari kemudian—pada 25 Juni 2025—menggunakan teknik manual baru berupa pengangkatan tali .
Yarman juga menyatakan bahwa jika ada catatan atau kritik terkait proses lain, pihak TNGR terbuka untuk memulai dan memperbaiki prosedur sebelumnya. Pernyataan ini mencerminkan komitmen TNGR terhadap transparansi dan peningkatan kualitas penanganan kejadian di kawasan konservasi.
Sementara itu, pemerintah Brasil melalui lembaga seperti DPU (Defense Public Office) mempertimbangkan untuk membawa masalah ini ke forum internasional jika dinilai terdapat kelalaian. Pemerintah Indonesia menawarkan investigasi bersama (investigasi bersama) sebagai alternatif penyelesaian demi keadilan dan memastikan hubungan bilateral tetap kondusif.
Kesimpulan: TNGR menyatakan proses evakuasi telah berjalan sesuai SOP dan upaya maksimal telah dilakukan. Pihaknya siap memutarkan prosedur jika diperlukan. Kini, pemerintah membuka opsi dialog hukum dan investigasi lintas negara, sebagai bentuk sikap proaktif dan penghormatan terhadap hak keluarga korban.


0 Komentar