Jakarta – Polemik kelangkaan beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai swalayan dan ritel modern akhirnya mulai terungkap. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menemukan adanya persoalan dalam rantai distribusi yang menjadi biang kerok kosongnya rak beras SPHP di sejumlah daerah.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menjelaskan bahwa stok sebenarnya masih tersedia cukup banyak di gudang Bulog. Namun, distribusi ke ritel modern terhambat karena keterlambatan proses administrasi, termasuk penetapan harga eceran tertinggi (HET) dan sistem pasokan dari distributor. “Beras SPHP tidak langka, stok di Bulog aman. Yang terjadi adalah mismatch distribusi sehingga tidak cepat sampai ke rak penjualan,” jelasnya.
Selain masalah distribusi, ada dugaan sebagian beras SPHP yang seharusnya ditujukan untuk konsumen yang rendah malah dialihkan ke pasar tradisional dengan harga sedikit lebih tinggi. Praktik ini membuat ketersediaan di swalayan terganggu, sementara konsumen sulit menemukan beras murah yang mereka butuhkan.
Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya permintaan menjelang akhir bulan dan pasca-aksi demo yang sempat menghambat jalur logistik. Sejumlah warga mengaku terpaksa membeli beras medium dengan harga lebih mahal karena rak SPHP di ritel modern kosong.
Pemerintah berjanji segera memperbaiki tata distribusi agar beras SPHP kembali mudah dijangkau masyarakat. Bapanas bersama Bulog dan Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) menargetkan dalam dua minggu ke depan pasokan akan kembali normal.
“Beras SPHP ini adalah instrumen yang menjaga stabilitas harga. Karena itu kami tidak ingin ada ruang petak. Distribusi harus lebih ketat, transparan, dan cepat,” tegas Arief.

0 Komentar